Tag Archives: pemilu 2014

Artis Cantik Yang Bakal Jadi Caleg Pemilu 2014

bacaleg artis

Nama-nama bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) yang akan bertarung pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 memperebutkan kursi legislatif mulai dari DPR-RI, DPRD I, dan DPRD II, telah diumumkan Komisi Pemilihan Umum.

Meski demikian, nama-nama itu masih bisa berubah karena masih ada 2 tahapan yang akan dilalui.

Pada 12 Juni 2013 daftar calon sementara (DCS) akan disosialiasikan. Selama satu minggu nama-nama itu akan diserahkan kepada masyarakat untuk mendapat tanggapan. Konfirmasi ditunggu sampai dua minggu.

Dan pada 25 Agustus 2013 daftar calon tetap (DCT) diumumkan, inilah yang disebut sebagai Calon Legislatif (Caleg) dan bisa mulai berkampanye, baik di luar maupun di dalam jadwal resmi yang sudah ditetapkan KPU.

Dari nama-nama yang sudah terdaftar sebagai Bacaleg, terdapat puluhan nama artis atau selebriti dunia hiburan. Ada yang sudah lama menjadi anggota Partai Politik (Parpol) peserta pemilu 2014, ada juga yang betul-betul baru bergabung, baik dipinang maupun atas dasar kesadaran sendiri mendaftar sebagai anggota Parpol.

Siapa saja mereka? Berikut beberapa diantaranya yang berhasil kami himpun. Semuanya adalah Bacaleg untuk DPR-RI.

Partai Amanat Nasional (PAN):

Anang, Ashanty, Desi Ratnasari, Ikang Fauzi, Marissa Haque, Hengky Kurniawan, Jeremy Thomas, Ayu Azhari, Dwiki Dharmawan, Norman Kamaru, Eko Patrio, dan Primus Yustisio.

Partai Nasional Demokrat (Nasdem):

Melly Manuhutu, Doni Damara, Jane Shalimar, Mel Shandy, dan Sarwana.

Partai Kebangkitan bangsa (PKB):

Tommy Kurniawan, Tia AFI, Ridho Rhoma, Vicky Irama, Dedi Irama, Mandala Shoji, Said Bajuri, Khrisna Mukti, Ressa Herlambang, Arzetti Bilbina, Akrie Patrio, dan Iyeth Bustami.

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra):

Irwansyah, Nuri Shaden, Bella Saphira, Iis Sugianto, Ifan Seventeen, Rahayu Saraswati, Bondan Winarno, Rachel Maryam, dan Jamal Mirdad.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP):

Angel Lelga, Lyra Virna, Emilia Contesa, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, dan Mat Solar.

Partai Golkar:

Charles Bonar Sirait, Nurul Arifin, Tantowi Yahya, dan Tety Kadi

Partai Demokrasi Indonesia perjuangan (PDI-P):

Yessy Gusman, Edo Kondologit, Nico Siahaan, Rieke Diah Pitaloka, dan Deddy “Miing” Gumilar.

Partai Demokrat (PD):

Yenny Rahman, Anwar Fuadi, Inggrid Kansil, dan Venna Melinda.

Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura):

David Chalik, Andre Hehanusa, dan Gusti Randa

Partai Demokrat Optimis Bakal Raih 18 Persen Suara dalam Pemilu 2014

bendera demokrat

Komite konvensi Partai Demokrat (PD) telah diputuskan dan proses konvensi akan segera dimulai. Partai Demokrat optimis meraup 18% suara dalam Pemilu 2014.

Walaupun Partai Demokrat hanya mendapat suara minimal 15%, PD tetap bisa mengajukan pemenang konvensi sebagai Capres.

Perihal berkoalisi dengan partai lain di 2014, partai Demokrat tetap membuka kemungkinan itu. Dengan partai apapun berkoalisi, untuk masalah Capres PD akan tetap mengajukan pemenang konvensi.

Sebelumnya melalui sekretaris majelis tinggi, partai Demokrat mengumumkan susunan komite konvensi. Komite akan bekerja selama delapan bulan kedepan hingga terpilihnya pemenang konvensi yang otomatis akan jadi Capres partai Demokrat.

Surya Paloh optimis Nasdem masuk tiga besar di Pemilu 2014

Surya Paloh

Ketua umum NasDem Surya Paloh optimis partainya akan mendapat suara bagus dalam pemilu 2014. Mantan politisi Golkar itu menargetkan NasDem finish di posisi ketiga.

“Kita konsisten, kita mengharapkan partai ini mudah-mudahan sedikitnya dia berada dalam 3 besar hasil pemilu legislatif pada pemilu 9 April yang akan datang,” kata Paloh, disela-sela open house di kediaman Jusuf Kalla, Jl Brawijaya, Jakarta Selatan, Jumat (9/8/2013).

Paloh juga menargetkan NasDem dapat memperoleh 100 kursi di DPR. Terkait capres, NasDem akan melihat dulu hasil pemilu legislatif.

“Ini harapan, ini kan upaya, hasil akhirnya lah yg akan bisa menjadikan kita kembali untuk duduk bersama dan memutuskan kebijakan apa dalam strategi ke depan sesudah pileg itu,” ujarnya.

Paloh menambahkan jika NadDem tak berada di posisi tiga besar, bisa saja partainya tak akan ikut dalam pemilihan presiden dan wakil presiden.

“Bahkan boleh saya katakan kalau NasDem tidak dalam posisi 3 besar, NasDem tidak akan ikut dalam pencalonan capres atau cawapres,” lanjutnya

Din Syamsuddin: Boleh pinang saya jadi capres, tapi izin Muhammadiyah

Din Syamsuddin

Kurang dari setahun pemilu 2014 akan diselenggarakan. Muncul banyak nama yang digadang-gadang pantas menjadi presiden menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), salah satunya Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

Ditemui saat open house di kediaman mantan presiden Jusuf Kalla, Jl Brawijaya Jakarta Selatan, Jumat (9/8/2013), Din menyatakan terima kasih jika ada partai yang meminangnya. Namun terlebih dahulu harus meminta izin kepada Muhammadiyah.

“Mandat dan amanat saya sebagai Ketum Muhammadiyah ini sampai 2015. Sementara pilpresnya 2014. Maka harus meminta izin dulu, kalau Muhammadiyah tidak setuju ya saya harus taat,” kata Din.

Menurut Din, masalah menang atau kalah juga harus dipikirkan terlebih dulu sebelum mengusung satu nama untuk dicalonkan. Karena tujuan awal demokrasi adalah untuk menang bukan untuk kalah.

“Saya tahu diri, yang berhak mencalonkan capres dan cawapres itu kan parpol atau gabungan parpol-parpol. Kami sebagai pimpinan ormas ini, kalau diminta mungkin kita akan pikirkan,” ujarnya.

Din mengaku sejauh belum ada partai yang meminangnya secara resmi. “Secara khusus tidak lah, paling isyarat-isyarat begitu saja,” ungkapnya.

Sistem coblos akan kembali dipakai pada Pemilu 2014

mega coblos

Panitia Kerja (Panja) DPR yang membahas RUU Pemilu menyepakati untuk mengubah pasal 153 dari UU No 10 Tahun 2008 tentang pemilu mengenai pemberian suara, yang sebelumnya pemberian suara untuk Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilakukan dengan memberikan tanda satu kali pada surat suara.

Ayat itu menjelaskan dengan melakukan pencontrengan. Rapat menyetujui agar ayat ini diubah dengan kembali pada pencoblosan. Alasan perubahan adalah berdasarkan pada evaluasi pemilu 2009, pemberian tanda (pencontrengan) banyak memunculkan kerumitan dan kecurangan. Dengan semangat memudahkan dan mengurangi kecurangan, rapat memutuskan untuk kembali ke pencoblosan.

Dengan disepakatinya perubahan pasal 153 maka secara otomatis juga akan merubah perlengkapan pemungutan suara. Rakyat sudah terbiasa coblos, karena itu balik ke sistem lama. Mengenai hak pilih anggota TNI, maka rapat memutuskan untuk menyetujui bahwa pasal 318 tetap seperti yang tertulis dalam RUU yakni Dalam Pemilu tahun 2014, anggota Tentara Nasional Indonesia dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak menggunakan haknya untuk memilih.

Pemilihan Umum 2014 di depan mata, siapa bakal berjaya?

kotak suara

Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 diprediksi akan didominasi oleh parta-partai yang saat ini ‘berseberangan’ dengan partai penguasa.

Tiga partai yang saat ini menjadi oposisi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Hanura, Gerindra dan PDIP diprediksikan berjaya dalam Pemilu 2014. Bahkan tiga partai itu akan menyalip eksistensi Partai Demokrat jika Pemilu 2014 dilakukan saat ini.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional (LSN), diketahui jika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) berada di posisi pertama dengan 20,5 persen, kemudian Gerindra dengan 11,9 persen, dan Partai Hanura 6,2 persen.

Direktur Eksekutif LSN Umar S. Bakry menegaskan beberapa faktor menjadi alasan dan menyebabkan tiga partai koalisi berada diatas angin, yakni kinerja pemerintahan SBY yang tetap kurang bagus dan image Partai Demokrat sebagai partai korup semakin menguat.